Resep Rendang Minang

Beberapa tahun yang lalu, saat masih aktif  berjualan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, tentu tidak asing dengan brand Rendang Uda Gembul. Ya, saya berjualan rendang Uda gembul, rendang khas minang yang terkenal dengan level pedesnya. Mulai dari level 0- level 10. Mulai dari level biasa aja sampai level bibir keriting. Rendang itu saya ambil dari pengusaha Bandung. 

Bertahun-tahun penasaran bagaimana caranya masak rendang yang enak. Masih belum menemukan resep yang ‘klik’, meski sering buka youtube memasak maupun belajar melalui halaman pencarian google. Kebetulan sekali saat itu ada seminar menulis di rumah Bu Rita, wanita asal minang asli yang menghidangkan menu rendang di rumahnya. Pas ‘nyicip’, langsung cocok, lalu mulai minta resep dan praktek masak. Beberapa kali masak, satu hal yang harus diingat jika ingin masak rendang enak, yaitu sabar. 

Saya post di blog, biar enggak selalu tanya terus ke Bu Rita 🤣

Bumbu :

  • Bawang merah (10-15 bj)
  • Bawang putih (10-15 bj)
  • Jahe
  • Lengkuas
  • Serai
  • Daun salam
  • Daun kunyit
  • Daun jeruk
  • Cabe merah (sesuai selera)
  • Kemiri, Jintan, ketumbar (disangrai)
  • Daging potong besar
  • Santan (1 kg santan pekat untuk 2 kg daging)
  • Kerisik

Cara memasak

  •  Blender semua bumbu kecuali daun kunyit, salam dan jeruk. 
  • Masukkan santan dan bumbu sekali. 
  • Aduk perlahan-lahan sampai naik minyak
  • Masukkan daging dengan api kecil
  • Tunggu hingga kuah mengering dan warna kecoklatan. Kurang lebih 6 jam-8 jam.
  • Bisa ditambah kentang jika minat ataupun cukup daging saja.

Advertisements

Masak Tanpa Minyak Menggunakan Tekhnologi Air fryer

Musim hujan begini, paling enak menikmati cemilan aneka gorengan. Meski enak, tapi jenis makanan dengan kandungan lemak dan minyak yang banyak ini tentu sangat dihindari bagi sebagian orang yang mengamalkan hidup sehat dan diet.

Tapi, sekarang sudah tidak perlu gelisah lagi. Sekarang sudah ada tekhnologi memasak tanpa minyak menggunakan air fryer. Aneka cemilan gorengan pun bisa dinikmati tanpa takut dengan kandungan lemak di minyak.

Beberapa hari lalu, nyobain beli produk Air Fryer dari Philips. Awalnya sih sempat ragu-ragu, masak sih bikin ayam goreng tepung bisa dimasak tanpa menggunakan minyak? Masak sih bikin goreng pisang bisa tanpa minyak? Ternyata, ketika kita coba, semua makanan utu bisa kita masak tanpa minyak.

Dari buku panduan yang diberikan, kita bisa baca kandungan kadar nutrisi menggunakan beberapa jenis alat memasak. Ternyata kandungan lemak pada makanan yang dimasak menggunakan air fryer jauh lebih rendah berbanding alat masak yang lain seperti Oven maupun Deep fryer.

Buku panduan yang diberikan satu set dengan produk ternyata sangat komplit. Kita bisa tahu kadar suhu untuk berbagai jenis makanan. Tentu untuk memasak daging akan berbeda kadar suhunya berbanding ketika memasak kentang goreng.

Ada juga beberapa resep yang tersedia. Sebagian sudah saya coba buat dan hasilnya sangat memuaskan. Diantara makanan yang sudah saya buat adalah kentang goreng dan ayam bersalut tepung.

Selain itu, ada banyak lagi resep makanan dan cemilan yang biasa makan.

Buat ikan bakar juga bisa

Apalagi ayam percik,

Nilai plusnya lagi, peralatan yang digunakan ramah cuci. Meski lemak yang terkandung di ayam menetes di bowlnya, masih tetap bisa dicuci dengan mudah.

Air fryer ini bukan selalu memasak tanpa menggunakan minyak, pada menu-menu tertentu kita masih tetap menggunakan minyak dengan kadar sangat sedikit. Mungkin dalam satu sendok untuk memasak ayam bakar.

Kita hanya perlu mengatur suhu dan waktu, setelah itu kita bisa tinggal untuk mengerjakan pekerjaan lain tanpa takut gosong.

Harganya kurang lebih RM 800, sedang ada promo di AEON. Ada juga yang lebih mahal sampai lebih dari RM 1000.

Sensasi Rumah Salju di Taman Botanic Negara Shah Alam

Kemeriahan bulan Desember tidak pernah lepas dari perayaan Natal, Salju, Liburan, sale besar-besaran, dan ditutup dengan pesta kembang api pada malam tahun baru. Sayangnya, kemeriahan itu tidak di semua negara bisa kita temui. Tidak semua negara memiliki musim sejuk dengan gumpalan salju putih menggunung. Tidak semua negara memasang pohon natal dengan kerlap-kerlip yang indah. Tidak semua negara meyakini Santa Clause akan datang mengetuk pintu dan memberikan hadiah. Tidak semua kanak-kanak menari dan meloncat melihat gunungan gula-gula.

Apalagi di kawasan yang memiliki iklim tripis di negara-negara Asia Tenggara. Ketika banyak orang-orang bule berdatangan ke negara Southest asia karena tidak suka dengan musim sejuk, kita berbondong-bondong ngumpulin duit buat bisa ngerasain musim salju,ngerasain pakai jaket tebal dan buat instastory dengan hastag – 2 derajat celcius. Melihat satu fenomena ini saja sudah membuatku bersyukur. Tuhan nyiptain perbedaan biar kita bisa saling bertukar dan saling ngerasain iklim di masing-masing negara. Selain itu timbul rasa syukur sudah dikasih badan dan kesehatan yang pas sesuai tempat tinggal dan daya tahan tubuh.

Tapi kalau kantong pas-pasan, ide kreatif manusia selalu punya cara agar bisa merasakan salju di kawasan iklim tropis. Di kota tempat tinggalku saja ada dua tempat wisata yang nawarin wisata berkonsep rumah salju. Satu di I-city dan satu lagi di Taman Botanic Negara Shah Alam.

Beberapa minggu kemarin aku disuruh bawa anak buah majikan ke Taman botanic Negara Shah Alam untuk ngerasain kesejukan dan keindahan rumah salju. Kebetulan pas pertama kali datang beberapa bulan yang lalu, RISEM-sebutan untuk rumah salju- sedang dalam masa perbaikan dan pas bawa anak buah majikan kali ini, RISEM sudah dibuka kembali.

Lagi musim liburan, jadi kawasan ini rame banget. Banyak rombongan anak-anak TK. Rombongan keluarga juga banyak. Tiket masuk untuk taman Botanic sendiri seharga RM 3, kalau mau masuk ke rumah salju harus bayar lagi RM 5.

Di kawasan yang sangat luas itu, kita bisa naik shutle bus gratis menuju bukit atau bisa sewa sepeda. Sewa sepeda RM 10. Aku saranin kalau mau ke sana mendingan pagi aja, taman ini dibuka pada jam 07.30-16.30. kalau sudah siang, taman ini sangat panas.

Selain rumah salju, kita juga bisa menikmati banyak lagi tawaran menarik yang disediakan oleh pihak pengelola taman. Di antaranya adalah Rumah Pantau, rumah tingkat berbahan kayu itu sangat menarik dengan desain rumah ala villa. Dari jauh kelihatan angker, kalau nggak pergi ramai-ramai pasti takut.

Ada tasik dan aneka wahana permainan anak-anak. Ada rumah Haiwan, persawahan, kolam ikan dan banyak lagi. Aku juga belum selesai eksplore semuanya karena cuaca yang panas banget.

Penjual makanan juga banyak di atas bukit. Tidak perlu risau jika tidak bawa bekal. Warung-warung penjual es krim dan snack jualan berjejer. Ada juga warung nasi bersebelahan dengan surau, tapi di bawah, dekat dengan pintu loket.

Kalau mau cari wisata murah memang aku saranin datang ke sini bisa berwisata sekaligus olahraga.

Batu Caves Malaysia

Sebelum memutuskan untuk jalan-jalan ke Malaysia, tentu sudah tidak asing bagi wisatawan untuk mencari tahu, what is the best thing to do in Kuala Lumpur, lalu pada mesin pencarian google menampilkan deretan artikel mengenai apa saja yang bisa dilakukan ketika jalan-jalan di Kuala Lumpur.

Salah satu tempat yang tidak asing bagi wisatawan ketika berkunjung ke Kuala Lumpur adalah Batu Caves. Gua batu yang menjadi tempat suci bagi umat Hindu di Malaysia. Tempat ini menjadi begitu hits di media sosial dengan adanya background foto patung besar Dewa Murugan yang berdiri megah di pintu masuk menuju gua. Selain itu, tempat wisata ini gratis. Tentu semakin menambah nilai plus bagi wisatawan.

Untuk masuk ke gua, wisatawan harus memanjat tangga sebanyak 247 anak tangga dengan tingkat kemiringan yang ekstrem. Tangga ini tentu saja membuat banyak wisatawan lebih memilih berfoto-foto di depan patung Dewa Murugan sebagai bukti sudah pernah mengunjungi tempat ini berbanding harus naik tangga ke atas bukit. Atau berfoto dengan latar belakang kumpulan burung dara seperti tempat-tempat wisata di Eropa sana.

Sebenarnya sayang sekali jika tidak menikmati keseluruhan daya tarik Batu Caves ketika berkunjung ke sana. Banyak hal-hal menarik yang bisa dilakukan, di antaranya adalah :

1. Nikmati sensasi naik tangga dan kenakalan monyet di kanan-kiri tangga

Batu caves sendiri adalah bukit dengan banyak tanaman. Di sekeliling batu caves juga dipenuhi dengan bukit-bukit yang penuh dengan pepohonan. Sudah barang tentu monyet banyak sekali tinggal di sini. Saat naik tangga, akan ada banyak sekali monyet yang duduk di bagian pengangan tangan tangga ataupun di dahan-dahan pohon. Hati-hati jika bawa makanan di tangan, bisa-bisa direbut oleh monyet. Jika kamu takut, cukup bertenang, karena berada di ketinggian seperti itu tidak aman jika harus melompat-lompat histeris.

2. Jika beruntung, Kamu bisa menyaksikan ritual keagamaan

Ada beberapa perayaan umat hindu yang dilakukan di Batu Caves. Perayaan paling besar adalah Thaipusam. Biasanya diadakan pada bulan Februari. Bisa dicek kalender event tahunan Malaysia jika kamu berniat menyaksikan perayaan ini. Selain Thaipusam, perayaan kecil juga sering diadakan. Sembahyang besar biasanya dilakukan setiap hari selasa dan sabtu.

Ketika penulis datang berkunjung ke sana, kebetulan hari sabtu, penulis sempat menyaksikan ritual tindik telinga untuk bayi. Tindik telinga dilakukan untuk setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan setelah hari kelahiran mereka. Ritual tindik ini tidak dibatasi sampai umur berapa. Bayi-bayi yang akan ditindik, kepalanya sudah digundul terlebih dahulu dan diberi ramuan berwarna kuning di seluruh kepala. Ketika saya tanya bahan ramuan dan alasanyya, mereka bilang bahan itu adalah ramuan khas orang India. Tujuannya adalah agar kepala si Bayi tetap sejuk.

Selain itu, orang-orang yang bersembahyang membawa kendi-kendi berisi susu sapi dan aneka bunga-bunga yang ditujukan untuk Tuhan kepercayaan mereka. Tidak lupa pakaian sari yang begitu khas baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Yang tidak pernah tertinggal adalah pelita, sejenis cahaya api yang berbahan dasar minyak sapi.

3. Bagi makan monyet

Di atas bukit, jumlah monyet sangat banyak. Patung-patung Dewa kepercayaan mereka juga banyak, ada patung gajah yang selalu disebut sebagai Ganesha dan juga banyak patung lainnya.

Pertama kali masuk ke gua ini agak takut sih, karena memasuki tempat yang dianggap suci oleh umat lain. Apalagi ketika masuk sampai di kuil paling atas. Ada beberapa wisatawan, namun jarang sekali wisatawan bertudung yang ikut masuk sampai ke kuil paling atas. Beberapa orang meyakini, orang islam tak boleh masuk ke tempat sembahyang umat lain, namun kembali lagi ke niat awal.

Melihat lebih jauh isi dan ritual keagamaan yang dilakukan di Batu Caves semakin menambah pengetahuan perbedaan ritual keagaaman dari berbagai umat agama di dunia sehingga kita bisa saling menghormati. Bukan termasuk membiarkan kemusyrikan sih, kan yang menganggap hal itu sebagai kemusyrikan adalah keyakinan umat islam, sementara bagi mereka tidak. Lakum dinukum waliyadiin saja.

Selain itu, kita bisa meminta makanan kepada penjual makanan jika ingin bagi makanan ke monyet yang ada di sekitar gua. Merasai sensasi mengelus kulit monyet yang bertingkah sangat lincah.

4. Cave villa yang jarang dimasuki pengunjung

Cave Villa merupakan salah satu gua selain gua utama. Ia berada di bawah bukit dan lebih kecil. Untuk masuk ke gua ini, pengunjung harus bayar tiket masuk. Untuk orang dewasa Harganya RM 7. Untuk anak-anak, RM 3. Di dalam Villa ini kita bisa menyaksikan banyak sekali burung merak. Dan saya baru tahu, bulu burung merak ini juga dijadikan salah satu properti untuk ritual keagamaan mereka. Bulu burung merak ini juga diperjualbelikan di beberapa kedai sebelum masuk ke Gua.

Selain itu, di Gua ini juga terdapat lebih banyak patung-patung sejarah keyakinan umat Hindu. Ada tulisan-tulisan juga yang ditempel di dinding. Karena sepi pengunjung, gua ini jadi terlihat seram meski di dalam gua didesain dengan aneka cahaya lampu.

Di area ini juga ada pertunjukan tarian India. Pertunjukan dimulai pada jam 11.00 setiap setengah jam.

5. Patung Anoman bukan sekedar patung untuk berfoto

Jika dihitung, secara keseluruhan ada empat kuil. Dua di dalam gua utama, dua lagi di luar. Salah satunya kuil di belakang patung Anoman yang berwarna hijau dan tinggi.

Ketika penulis datang, hari sabtu sedang ada upacara sembahyang di kuil berdekatan. Saya meminta ijin untuk masuk, ternyata diperbolehkan. Saya tertarik sekali melihat bagaimana mereka melakukan ritual keagamaan mereka.

Saat masuk kuil, ada anak lelaki berkalung daun sirih membawa kuih. Sejenis roti gandum dan campuran biji dal, saya lupa namanya. Ia membagikan kuih kepada siapa saja yang mau. Saya turut ambil sekedar mencicipi.

Di area kuil, ada kawasan yang hanya boleh dimasuki oleh Sami. Sami adalah pemuka agama hindu. Orang awam hanya berdiri si luar lalu menyampaikan apa yang menjadi do’a kepada Sami di depan patung Dewa mereka.

Terbang Bersama Philipines Airlines

Ini adalah kali pertama menggunakan maskapai penerbangan selain Air Asia ketika terbang dari Malaysia. Pernah sih sesekali nyobain Garuda Indonesia dan Malaysia Airlines, namun tidak sesering menggunakan Air Asia. Tagline, everyone can fly membuat maskapai penerbangan Air Asia terkenal dengan harga yang murah dan selalu menjadi rujukan pertama jika mencari tiket. Padahal jika dihitung kembali tidak selalunya begitu. Kenyamanan dan pelayanan di dalam pesawatnya juga masih jauh dengan maskapai lain.

Di Air Asia, penumpang tidak mendapatkan bagasi gratis kecuali bagasi kabin sebanyak 8 kg, sementara di dua pesawat yang saya sebut di atas memberikan bagasi gratis sebanyak 30 kg. Di Air Asia tidak mendapatkan makanan kecuali sudah pre order maupun beli di pesawat jika masih ada makanan yang tersedia, sementara di dua pesawat lainnya tersedia makanan. Di Air Asia tidak ada layar televisi mini, sementara di dua pesawat lainnya memiliki televisi mini dengan berbagai pilihan film. Salah satu yang paling unggul dari maskapai Air Asia adalah jurusan penerbangan langsung dari Malaysia ke berbagai daerah, sementara dua pesawat lainnya tidak ke semua daerah. Hanya ke beberapa kota besar Indonesia saja seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali dan lainnya. Kelebihan itulah yang membuat Air Asia tetap menjadi pilihan penumpang dari Indonesia di Malaysia yang ingin mudik ke kampung halaman.

Pada penerbangan akhir November kemarin, saya mendapatkan kesempatan untuk mencoba maskapai baru ke Manila yaitu Philipines Airlines. Saya kurang tahu harganya berapa karena tiket sudah disediakan oleh panitia. Saya coba berbagi pengalaman saja bagaimana pelayanan Philipines Airlines sepanjang perjalanan selama tiga jam tersebut.

Saya naik dari KLIA 1 setelah sebelumnya naik KLIA express dari KL Sentral yang super mahal bagi saya, 😂 . Harganya RM 55, sementara jika menggunakan bus hanya RM 12. Antrian untuk check in juga tidak terlalu banyak. Saya datang satu jam sebelum waktu Boarding. Dari tempat Check In ke tempat Boarding harus naik train karena jaraknya memang jauh. Boarding time sama seperti jadwal, 16.45.

First impression, dalam pesawat besar. Ada 45 nomer kursi dengan susunan tiga baris di kanan dan tiga garis sebelah kiri. Begitu duduk dan bersiap memasang seatbelt, Pramugara langsung menyodorkan selimut dan bantal. Seneng banget, apalagi saya bukan typikal manusia yang tahan dingin. Selain itu, jarak antara seat satu dengan kursi di sepannya lumayan longgar, bisalah sedikit bebas kakinya.

Waktu berangkat, Demo keselamatan masih secara manual seperti di pesawat-pesawat lain. Tapi, ketika pulang, demo keselamatan diganti menggunakan video melalui layar mini di atas kursi dengan video yang sangat menarik. Menampilkan beberapa tarikan wisata Philipines yang sangat cantik.

Beberapa menit kemudian dihidangkan makanan. Makanan yang disuguhkan, karena melihat saya berjilbab, langsung aja deh disodorin nasi lauk daging tanpa ditawarin menu lain. Selain nasi, ada juga roti dan salad. Ada berbagai macam jenis minuman juga, saya memilih jus apel. Lebih bagusnya, walau penerbangan cuma tiga jam, Pramugara begitu cekatan menawari minuman beberapa kali. 😍.

Toilet tentu saja lebih besar ukurannya. Ada dua di belakang dan dua di depan. Selain tissue sebagai media buat bersuci, ada juga gelas kecil buat tadah air. Sudah pernah ke beberapa negara, tapi tetep saja, saya belum terbiasa untuk beberaih pakai tissue. Mending tahan kencing 🤣.

Untuk keseluruhannya, Philipines airlines bagus. Kecuali pas penerbangan balik dari philipines ke Kuala Lumpur. Boarding gate yang ditukar itu membuat panik, sampai-sampai saya hampir ketinggalan pesawat karena tidak sadar dengan informasi yang diberikan.

Lagu Jali-jali, Terkenal di Negeri Orang, Asing di Negeri Sendiri

Indonesia itu kaya, sampai kekayaannya hilang tanpa sadar. Kaya akan sumber daya alam, sumber daya manusia dan budayanya. Sayangnya kekayaan itu selalu tidak sebanding dengan pemeliharaannya. Baru koar-koar seperti kebakaran jenggot, mengaku hak milik jika sudah jatuh ke tangan orang.

Seperti pagi-pagi biasanya, saya mengantar anak Ibu ke tempat kerja di Bangsar. Di antara kemacetan lalu lintas yang padat, saya menyalakan radio. Suara merdu lagu Jali-jali langsung terdengar. Lagu khas suku Betawi, Jakarta, itu mengalun indah di Negeri orang. Di antara beberapa stasiun radio yang ada di Malaysia, Stasiun Nasional FM dan BFM radio menjadi favorit saya. Lewat Nasional FM, saya bisa mendengar lagu-lagu lawas Indonesia seperti Doel Sumbang, Jamal Mirdad bahkan lagu-lagu Dewa 19 yang pernah hits pada saat itu. Lewat BFM radio, saya bisa mendengar diskusi menarik berbahasa Inggris mengenai isu-isu terkini dengan gaya bahasa yang renyah.

Jika kita bertanya ke anak muda jaman sekarang, mungkin sebagian dari mereka tidak mengenali suara dan lirik indah karya musisi tahun 80′-90’an. Iyalah, jika habis mbrojol saja sudah dijejali dengan lagu-lagu Jaran Goyang lengkap dengan tariannya.

Meski tidak dipungkiri, semboyan ‘Dangdut is the music of my country‘, lagu-lagu dangdut Koplo dan dangdut Pantura jauh lebih enak di dengar bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya laki-laki. Di kampung halaman, dari rumah ke rumah, suara musik yang sering terdengar adalah gubahan lagu-lagu dangdut yang diubah musiknya menjadi lagu koplo.

Isu klaim budaya masih menjadi isu panas antara Indonesia dan Malaysia. Kegiatan saling mengejek dan menghina itu masih tumbuh subur di sosial media. Beberapa budaya yang berasal dari Indonesia dilestarikan di Malaysia. Kuda Lumping, Reog Ponorogo, Musik Gamelan, lagu Rasa Sayange bahkan sampai ke kain khas Batik.
Mau bagaimana lagi, budaya-budaya itu di bawa masuk ke Malaysia seiring dengan masyarakat Indonesia yang melakukan migrasi pada era Orde Baru. Yang melestarikan budaya-budaya itu juga imigran Indonesia yang sudah berpindah kewarganegaraan Malaysia.

Menurut saya, usahlah menghina, saling menghujat yang akan memperburuk citra masyarakat Indonesia. Sebagai generasi muda yang mencintai bangsanya, mari kita turut andil melestarikan kekayaan budaya Indonesia. Mendorong pemerintah agar mematenkan aneka budaya Indonesia ke Badan Internasional. Lagu Jaran Goyang biarlah terus terdengar, namun jangan lupa, kita memiliki warisan budaya lain yang harus tetap dilestarikan.

Posted : 8 november 2017

Banjir

Malaysia sedang dalam cuaca tidak menentu. Kadang pagi hari terlihat cerah, sebentar kemudian awan gelap datang dan turun hujan. Kadang pagi mendung sebentar kemudian menjadi cerah. Keadaan ini tentu membuat resah banyak orang.

Bagi ibu-ibu rumah tangga, Ia gelisah jika mau nyuci sprei dan segala jenis kain tebal. Jika tidak kering, baunya busuk dan harus ngulang nyuci lagi. Bagi tukang kebun, Ia gelisah. Mau nyiram tanaman, mubadzir air jika sebentar lagi turun hujan. Tidak siram, takut kering jika matahari tiba-tiba muncul.

Bagi saya sendiri, saya takut jika rumah bocor. Beberapa hari lalu, hujan turun lebat sekali. Tidak biasanya rumah ini bocor karena beberapa bulan yang lalu juga baru diperbaiki. Pak Tukang bilang sudah memperbaiki semua bagian di atap termasuk bagian yang diprediksi menimbulkan kebocoran. Ternyata prediksi manusia tidak selalunya tepat. Sore itu saya melihat air membanjiri kamar tidur yang berlantai kayu. Cepat-cepat saya ambil alat pel agar tidak merusak kayu.

Kejadian ini juga saya alami ketika di Jakarta. Dinamika politik sedang panas. Ada yang bangga karena sejak Gubernur yang sedang menjabat saat itu, sudah tidak banyak titik banjir. Saya juga yakin saja, apalagi tuan rumah bilang bahwa sudah hampir tiga tahun rumahnya tidak tergenang banjir, padahal di tahun-tahun sebelumnya selalu banjir.

Hujan deras sepanjang malam. Saya terbangun saat adzan subuh dari Mushola sebelah rumah dikumandangkan. Tiba-tiba tuan rumah berteriak,

“Banjir!”

Wajah kami panik semua. Nyawa seperti belum terkumpul sempurna, tapi air sudah memenuhi rumah. Kami berlarian menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan. Mengangkat karpet, mengangkat kardus-kardus berisi buku dan barang lainnya. Apalagi rumah ini menjadi base camp dari Hibah Buku, sudah tentu bukunya berkardus-kardus. Banyak yang tidak selamat. Buku-buku sudah basah kuyup.

Berhari-hari saya jemur jika ada cahaya matahari. Berharap masih bisa diselamatkan, walau bagaimanapun, buku-buku itu adalah amanah.

Bertambah sedih ketika kemarin mendapat kabar. Buku-buku yang selamat dari banjir itu justru dimakan rayap. Saya sudah tidak ada di sana dan tidak ada yang merawat. Akhirnya buku-buku itu habis dibakar.

Manusia hanya bisa memprediksi, namun juga harus waspada. Belum tentu yang sudah kita siapkan dengan baik akan selamanya baik dan selamat. Banjir di Jakarta sudah menjadi langganan, maka kita bisa belajar dari pengalaman. Jangan menjadikan Banjir sebagai lelucon politik. Karena nguras air di dalam rumah itu bikin PEGEL LINU.

Posted 7 november

Es Tong-tong

Mengingat masa kecil, tentu sudah tidak asing lagi mengenali jajanan murah Es Tong-tong. Es yang dijajakan oleh penjual es keliling pakai sepeda motor atau sepeda onthel. Media komunikasi pemasaran berupa Bonang, salah satu kepingan alat musik gamelan dan bunyinya nyaring sekali “Thong…thong…”

Masing-masing daerah memiliki gaya penyebutan lain-lain, ada yang menyebutnya Es Tong, Es Kring, Es Tong-tong dan lainnya. Kalau lidah orang jawa sih penyebutannya sesuai dengan bagaimana cara penjual itu membunyikan atribut pemasarannya. Kalau gelas dipukul biasanya adalah penjual dawet ayu. Bapak-bapak teriak ‘Dalepok’, adalah pembeli barang rongsok yang ditukar dengan kerupuk. Kalau ada laki-laki datang setiap hari pasaran wage dan bawa buku lurik, pasti orang itu adalah tukang kredit. Kalau ada suara klakson mobil dan speaker menyuarakan musik dangdut, sudah pasti itu adalah penjual alat dapur keliling ataupun baju murah.

Harganya cukup murah, waktu kecil dulu, satu corong es krim harganya Rp 100, kalau pakai kepingan roti harganya Rp 200. Sudah lama sekali memang, karena makan es krim ini saat usia SD saja. Setelah itu, selalu merasa nggak pantas makan jajajannya anak SD. 😂😂

Kemarin sore, ada penjual es seperti ini keliling kompleks perumahan. Dari jauh sudah terdengar bunyi loceng dan deru suara motor Yamaha. Saya berhenti sebentar dari aktivitas menyapu, melihat apakah yang datang tukang es atau pedagang asongan keliling. Pada jam yang hampir bersamaan, selalu ada dua motor yang lewat. Satu orang penjual berbagai jenis makanan dan snack, satunya adalah penjual Es krim.

Di Malaysia, di kawasan perumahan besar-besar, hal ini terkesan unik ketika bisa menjumpai pedagang keliling. Saya berfikir, Siapa yang mau beli? Pengawasan rumah yang ketat, rumah dengan pembatas dinding tinggi, CCTV di mana-mana bahkan di sini juga tidak ditemui sekumpulan ibu-ibu berdaster yang berkumpul di depan rumah sambil mengasuh anak apalagi riuh anak-anak yang sedang bermain bola. Tidak ada. Banyak orang menyibukkan diri di dalam rumahnya masing-masing. Siapa target pasar mereka jika harus menjajakan barang dagangannya di kawasan ini?

Allah yang mengatur secara adil pembagian rejeki untuk setiap orang. Di bawah pohon rindang, sekelompok penyapu jalanan sedang berteduh. Di sampingnya adalah penjual es krim.
Orang-orang sibuk bersenda gurau sambil menjilati es krim. Pernah mencoba beli, harganya jauh kebih murah berbanding es krim di minimarket-minimarket. Tapi jangan berharap di penjual es krim ini bisa menemukan es krim Cornetto, Milo apalagi Magnum.

Shah Alam, 11 November 2017

Lintasan Lari

Kilas balik ketika enam bulan lalu masuk ke Malaysia setelah sebelumnya memutuskan untuk tidak melanjutkan bekerja di Malaysia lagi. Saya bertemu majikan baru yang kehidupannya berbanding terbalik dengan majikan sebelumnya. Bukan karena majikan lama enggak baik, hanya saja kita memerlukan variasi, memerlukan sesuatu yang berbeda ketika rasa bosan itu datang.

Lingkungan kerja baru dan bersama orang baru tentu memerlukan adaptasi yang tidak mudah, untung saja Majikan baru sangat easy going dan pas banget sama keinginan dan gaya hidupku.

Minggu pertama, saya diminta untuk menemani beliau jogging di Taman Tasik, Shah Alam. Olahraga menjadi hal yang sangat aneh dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Sampai ada yang bilang,

“Kamu kok mau ikutan manjat tebing, apa nggak pingsan?”

Saya aminkan kalimat itu karena memang saya sangat lemah dan tidak pernah melakukan kegiatan outdoor yang memerlukan tenaga fisik kuat. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas kerja yang sesuai dengan bidang pekerjaan saya. Pekerjaan rumah meski sama melelahkannya seperti olahraga, namun pekerjaan rumah memberikan efek lelah yang lain. Meski sama-sama capek, tapi bukan rasa bugar yang didapat.

Baru beberapa meter sudah ngos-ngosan. Udah hampir menyerah dan mempersilakan majikan untuk melanjutkan sendiri larian. Lintasan taman tasik sepanjang 3,5 km itu terasa seperti lintasan panjang penuh rintangan. Serupa perempuan jomblo yang belum melihat titik jodoh. Berat dan jauh sekali untuk mencapai garis finish.

Kali ke dua jogging saya mulai bisa beradaptasi. Sebelumnya saya melakukan pemanasan olahraga terlebih dahulu, melakukan gerakan ringan ntuk meregangkan otot dan menyiapkan fisik untuk perjalanan yang jauh. Suara kecipak air tasik, musik senam dan kicau burung menjadi penyemangat minggu pagi untuk bisa menaklukan lintasan lari.

Melihat ke sekeliling, orangtua yang bisa saya perkirakan berusia lebih dari enam puluh tahun itu melakukan gerakan-gerakan ringan dengan diiringi instrumen musik lagu berbahasa china. Aku langsung membayangkan film kungfu-kungfu dari tiongkok yang sering aku tonton. Indah sekali melihatnya. Gerakannya pelan sebagai proses mengatur pernafasan dan konsentrasi fikiran. Sesekali jika sudah menyelesaikan satu putaran, saya mengikuti gerakan mereka di belakang. Melihat mereka menjadi motivasi tersendiri, jika orangtua saja begitu aktif untuk mengamalkan hidup sehat, kenapa yang muda tidak?

Orang-orang lain berlari sambil mendengarkan musik. Hal lain yang membuat saya semangat untuk tetap melakukan jogging setiap minggu adalah melihat gaya berbusana mereka. Sepatu sport dengan warna-warna mentereng, celana training dengan berbagai merek, dan baju olahraga yang tak kalah ngejreng. Lebih senang lagi jika bisa melihat laki-laki ganteng tanpa ada sosok perempuan di sebelahnya. 🤣. Cuci mata, begitu orang menyebutnya.

Sudah hampir enam bulan, aktivitas jogging masih terus dilakukan, jika majikan sedang ada di rumah ketika weekend. Kesibukannya kerja seringkali membuat majikan tidak pernah menikmati akhir pekan di rumah. Kadang ke luar kota, kadang ke luar negara. Saya sendiri malas jika jogging sendirian.

Sepanjang waktu itu, saya sudah mulai ada peningkatan. Perjalanan selama satu jam, dengan 6000 langkah sepanjang 3,5 tidak lagi menjadi medan yang menakutkan. Bayangan garis finish sudah tidak terlihat jauh. Saya sudah bisa berlari sedikit meski baru beberapa meter langsung kram perut. Sedang majikan yang usianya dua kali lipat dari usiaku sudah bisa berlari jauh,bahkan beberapa minggu yang lalu ikut lari marathon sejauh 5 km.

Saya mencoba lagi untuk berlari, siapa tahu setelah latihan jogging keliling kompleks setiap malam sudah memberikan peningkatan kualitas larian saya. Hasilnya memuaskan, saya sudah bisa lari separuh dari lintasan lari Taman Tasik. Pencapaian terbesar saya. Setelah itu timbul lagi keinginan untuk menyelesaikan satu putaran penuh. Apalagi dapat tantangan dari majikan untuk menyiapkan diri lari Marathon 5 km, Desember mendatang.

Dari perjalanan panjang dan waktu yang lumayan lama itu, saya bisa menarik kesimpulan. Lintasan lari itu ada seperti bidang yang kita minati. Sebagai contoh adalah menulis. Untuk bisa menjadi penulis dan melahirkan karya yang bagus, tentu kita harus berlatih menulis. Mulai dari menulis ringan lama-lama kita akan menulis sesuatu yang lebih berat. Menulis setiap hari, jadikan tulisan sebagai rutinitas yang harus dilakukan baik dengan paksaan maupun kesadaran diri. Setiap tulisan yang menjadi karakter kita sebagai penulis. Kita akan memiliki pembaca sendiri hingga dijuluki penulis terbaik.

Lintasan itu juga bisa kita contohkan pada bidang lain seperti memasak, menjahit, publik speaker, designer dan berbagai keahlian lain yang ada di dunia ini.

Tetap berlari di lintasan itu hingga kita menemui garis finish untuk disebut sebagai penulis, chef, designer maupun sebutan lain yang menjadikan sebutan itu melekat dalam diri kita sebagai sebuah kesuksesan.

Shah Alam, 17 Nopember

Photo : Aderukmi